Disable Preloader

LPPKPIE - BLOG

Kepala merupakan organ tubuh yang sangat sensitive yang harus dijaga. Meskipun kepala memiliki tulang tengkorak yang keras,  bukan berarti kepala akan kebal terhadap berbagai respon . Cedera yang terjadi di kepala bisa menyebabkan berbagai dampak bagi seseorang. cedera ini dapat terjadi karena benturan, terjatuh atau kecelakaan hebat .

Kepala juga organ yang berfungsi untuk melindungi otak. Sebagai pusat dari organ tubuh, otak yang mengalami cedera atau trauma dapat menyebabkan berbagai masalah bagi tubuh seseorang. Trauma ini umumnya dikategorikan menjadi tiga, yaitu trauma ringan, sedang dan berat.

Trauma ringan

Trauma kepala ringan yaitu kondisi yang disebabkan karena tubuh mengalami cedera ringan. Biasanya cedera ini terjadi karena beberapa alasan seperti kecelakaan ringan, terkena benda jatuh, dipuku l atau terbentur sesuatu.

Gejala dari trauma ringan biasanya meliputi benjolan atau bengkak di kepala, luka ringan, mual dan lain-lain. Trauma ringan ini tidak seharusnya disepelekan karena benturan yang lumayan keras dapat mengakibatkan  gagar otak, epilepsi, sindrom cedera otak ke dua, vertigo dan lain-lain.

Trauma sedang hingga berat

Trauma sedang bisa terjadi pada kasus cedera berat dalam kecelakaan hebat, bencana alam besar dan lain-lain. Gejala dari trauma ini adalah muntah, kejang, hilang ingatan, hilang kesadaran, sakit kepala berkepanjangan, mengeluarkan cairan bening dari hidung dan telinga, dan lain-lain.

Trauma berat perlu diwaspadai karena memiliki resiko yang besar bagi pasien hingga beresiko kematian. Trauma sedang hingga berat ini dapat menyebabkan hematoma (pecahnya pembuluh darah otak), pendarahan otak, pembengkakan otak, kerusakan jaringan otak hingga kematian.

Kapan harus konsultasi ke dokter?

Trauma kepala ringan maupun berat seharusnya segera untuk diperiksakan ke dokter. Hal ini dilakukan untuk memastikan sejauh mana kondisi pasien sehingga dapat ditangani dengan cepat dan tepat.

Dalam pemeriksaan dokter akan menganalisa sejauh mana keparahan cedera yang dialami pasien. Untuk mengetahui lebih jelasnya, dokter akan mereekomendasikan pemeriksaan penunjang seperti:

Pemeriksaan GCS (Glasgow Coma Scale). Pemeriksaaan ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien. Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mengetahui tingkat keparahan cedera pasien.

Pemeriksaan saraf. Sebagai pusat dari organ tubuh manusia, cedera kepala dapat mempengaruhi fungsi sayaraf dengan melakukan pemeriksaan kekuatan otot dan pemeriksaan lainnya.

Pemeriksaan Radiologi. Pemeriksaan baik beruba rontgen, CT scan atau MRI dapat digunakan untuk mengetahui kemungkinan terjadinya paah tulang tengkorakpendarahan dan lain-lain

Gejala yang timbul pada cedera kepala tidak serta merta berlangsung setelah kejadian berlangung. Bisa saja gejala timbul satu minggu bahkan satu bulan setelah kecelakaan terjadi. Sehingga sebaiknya pihak kelaurga dari pasien  bekerjasama untuk mengatur pola makan, pola tidur maupun suasana hati pasien.

 

image source: https://medicine.wustl.edu/wp-content/uploads/KidHeadInjury-700x467.jpg