Disable Preloader

LPPKPIE - BLOG

Tahun ini Indonesia menjadi tuan rumah dari pertemuan forum Internasional Presidensi G20 (Group of Twenty). Dalam Presidensi G20 tahun ini terdapat tiga isu prioritas yang dibahas yaitu arsitektur kesehatan global, transformasi digital dan ekonomi serta akan mendorong tata kelola kesehatan yang lebih tangguh pasca pandemi covid-19.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik Kementerian Komunikasi dan Informatika (Dirjen Kominfo), Usman Kansong menjelaskan pada presidensi G20 Italia tahun lalu, Indonesia mengusulkan perlunya kebijakan terkait isu kesehatan global yang perlu dibahas pada Presidensi G20 Indonesia tahun ini.

Pada pertemuan kedua forum Menteri Kesehatan (2nd  Health Ministers Meeting) G20 pada 27 hingga 28 Oktober 2022 lalu, perwakilan negara anggota G20 dihadiri oleh 190 orang termasuk perwakilan negara maju, perwakilan Negara ASEAN, serta perwakilan organisasi seperti WHO, World Bank,GAVI, CEPI, Global Fund hingga OECD.

Hasil kerja presidensi G20 bidang kesehatan

terdapat lima poin pokok hasil kerja untuk upaya pencegahan, persiapan dan respon dalam menghadapi pandemi. Lima poin pokok hasil dari hasil kerja presidensi G20 bidang kesehatan yaitu:

1. Penguatan dukungan dana perantara keuangan

Sejak 11 Juli 2022, Bank Dunia telah menyetujui pendirian Financial Intermediary Fund (FIF) atau Dana Perantara Keuangan. Forum Presidensi ini akan menguatkan dukungan dana perantara keuangan.

2. Arahan struktur mobilisasi sumber daya esensial kesehatan

Mobilisasi sumber daya esensial kesehatan membutuhkan arahan yang terstruktur, sehingga setiap negara dapat lebih siap dan bisa bekerja sama dalam menghadapi keadaan krisis kesehatan.

3. Penguatan surveillance

Pengawasan atau surveillance, termasuk geonomic surveillance atau pengawasan informasi genetic (genom) patogen membutuhkan kolaborasi antarnegara. Kerjasama ini dapat digunakan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan penanganan pandemic yang lebih baik.

4. Pengautan kerjasama platform kesehatan global

Penguatan kerjasama ini diharapkan mampu mengharmonisasikan protokol kesehatan global terutama dalam penyetaraan sertifikat dokumen kesehatan seperti vaksin dan hasil diagnostik.

5. Perluasan pusat pelatihan dan manufaktur kesehatan global

Perluasan pusat penelitian dan manufaktur kesehatan global dapat membuka peluang bagi berbagai Negara agar dapat memiliki akses vaksinasi, pengobatan dan diagnostic yang lebih baik.

 

Kesepakatan diplomasi bilateral bidang kesehatan G20.

Dalam forum presidensi G20, terdapat beberapa kesepakatan hasildiplomasi bilateral kesehatan, seperti:

1. MoU bidang kesehatan dengan Korea Selatan

Indonesia menandatangani kelanjutan kerja sama (MoU)bidang kesehatan bersama Korea Selatan selama lima tahunke depan. Bentuk kerjasama ini seperti perluasan pelayanan medis di rumah sakit sampai percepatan kolaborasi dengan industry farmasi dan rumah sakit Korea Selatan.

2. Kunjungan industri vaksin berbasis mRNA di Afrika Selatan

Indonesia diundang untuk mengunjungi industry yang memproduksi vaksin berbasis mRNA di Capetown, Afrika Selatan. Dalam kunjungan ini aka nada pertukaran informasi mengenai cara meningkatkan sekuensing genomic dan mRNA. Transfer pengetahuan ini selaras dengan kolaborasi G20 dalam membangun pusat penelitian dan manufaktur vaksin, terapi atau pengobatan dan diagnostic bidang kesehatan.

3. Hibah 15 juta dolar AS dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab

Arab Saudi memberikan hibah untuk obat dan vaksin meningitis bagi pelaku perjalanan haji dan umrah sebanyak 5 juta dollar AS. Selain itu, Uni Emirat Arab juga menghibahkan uang sebanyak 10 juta dollar AS untung penanganan TBC.

4. Dukungan harmonisasi protokol kesehatan global oleh Spanyol

Sebagai calon President European Union pada semester ke dua 2023, spanyol mendukung harmonisasi protocol kesehatan global termasuk yang diinisiasi Indonesia. Spanyol juga berhasil menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi perjalanan internasional yang aman dan membawa intervensi Indonesia ke audiens yang lebih luas untuk mendukung inisiatif tersebut.

5. Undangan co-chair World Local Production Forum 2023 dari Belanda

Indonnesia telah bekersama dengan Belanda yang akan berakhir pada 2023 dengan focus kerjasama meliputi perawatan medis dan lanjut usia, pengendalian penyakit menular, ketahanan kesehatan global dan kerjasama lainnya.  Hingga akhirnya Indonesia diundang menjadi co-chair World Local Production Forum tahun 2023 yang diselenggarakan di Belanda.

6. Program pelatihan pre-departure perawat di Jerman

Pertemuan bilateral dengan jerman juga menghasilkan program pelatihan pe-departure yang diharapkan mampu membawa lebih banyak tenaga perawat Indonesia bekerja di Jerman.

7. Penjajakan project ARPA-H bersama AS

Indonesia sedang dalam tahap menjajaki kerjasama dengan pusat riset kesehatan Advanced Research Projects Agency for Health  bersama Amerika.

Indonesia akan meminta National Institute of Health untuk membuta unit penelitian klinik di rumah sakit terbaik di Indonesia.  Sebelumnya Indonesia sudah memiliki kerjasama kesehatan denganAS sejak 21 Mei 2019 di Jenewa.

Indonesia juga meminta dukungan kemitraan dan tenaga ahli dalam pembangunan Laboratorium Kesehatan Masyarakat Nasional Indonesia, serta meminta sponsor kerjasama rumah sakit di Indonesia dengan beberapa rumah sakit di AS.

8. MoU transfoirmasi pilar ketiga dengan Brazil

Pertemuan bilateral dengan Brazil menghasilkan kesepakatan MoU untuk kolaborasi dalam pilar ketiga, yakni vaksin, surveilens penyakit menular dan penanganan orbovirus serta upaya penurunan malaria.